Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2016

Para Penyinyir



Hari ini, ketika saudara-saudara kita Umat Islam dari seluruh penjuru negeri datang ke Jakarta dan akan melakukan aksi damai di sana demi menuntut keadilan yang kerap tajam ke bawah dan tumpul ke atas, justru ada orang-orang yang nyinyir terhadap perjuangan ini. Bahkan, nyinyiran ini ada yang berasal dari orang-orang yang katanya “beragama Islam”. Sungguh, apa yang harus kita katakan pada mereka jika saudara seiman pun mereka perolok-olokkan. Mungkin, firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam berabad-abad silam ini bisa menjawab sikap mereka:


Kamis, 22 November 2012

Palestina Juga Mereka Fitnah



 

Hari-hari ini dunia kita tengah disibukkan dengan pemberitaan aksi biadab Zionis Yahudi Israel. Bagaimana tidak, mereka dengan bangga melakukan genosida di tanah Palestina. Tak hanya orang dewasa, anak kecil pun mereka bunuh tuk penuhi ambisi syaithani mereka. Dan lucunya, ketika rakyat Palestina melakukan pembelaan diri mereka sebut aksi itu dengan “serangan teroris ”. Padahal sudah sangat jelas bahkan anak kecil pun tahu siapa yang sebenarnya TERORIS. 

Meski sekarang tengah terjadi gencatan senjata, tetap tak bisa dijadikan jaminan bahwa keadaan telah aman. Belajar dari sejarah; Yahudi Israel selalu melanggar perjanjian gencatan. Karenanya, waspada tetap harus dikedepankan. Pun para awak media karena baru-baru ini mereka juga menyasar para jurnalis yang memberitakan fakta sebenarnya.

Jumat, 16 November 2012

Ironi di 1 Muharram

Peringatan 1 Muharram atau yang lebih dikenal dengan 1 Syura sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal, jika merujuk sirah nabawiyah, tak akan kita dapati peringatan ini. Meski demikian, setahun sekali tetap saja ada sekelompok orang yang memperingatinya. Terlepas dari hukum perayaan tanggal tersebut, ada hal-hal yang sedikit mengusik hati saya sebagai seorang Muslim.
Sebagai seorang Muslim, kita memohon pertolongan dan menyatakan penghambaan diri sepenuhnya kepada Allah minimal 17 kali dalam hari. Dengan kata lain, seharusnya kita paham bahwa memang tidak ada tempat meminta tolong dan berserah diri kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Akan tetapi, yang tersuguhkan di hadapan kita adalah fenomena di mana sebagian saudara kita masih berharap kepada makhluk Allah yang sama sekali tak pantas untuk ditandingkan dengan-Nya bahkan seluruh alam dan seisinya.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Ketika Susu Berbalas Tuba

Di bulan Ramadhan ini tidak semua umat Muslim bisa menjalankan kewajibannya dengan tenang, layaknya kita yang tinggal di Indonesia. Tengok saja saudara-saudara kita di Rohingya, Myanmar. Alih-alih bisa menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini, untuk sekadar menyambung napas saja mereka harus mencari perlindungan ke sana ke mari, bahkan ada yang sampai mengungsi ke Indonesia. Maka, sudah selayaknya kita membantu mereka sebagai saudara seiman, dengan cara apa pun—minimal kita memanjatkan doa untuk mereka di setiap kita memohon kepada-Nya.

Kamis, 15 Maret 2012

Menjadi Imam Shalat


Mengamati hal-hal yang dianggap remeh memang terlihat seperti pekerjaan yang sia-sia. Pernyataan ini bisa benar bisa juga tidak. Intinya, tergantung masalah apa yang kita perhatikan. Kalau berhubungan dengan kehidupan dunia mungkin sebuah masalah bisa dikategorikan sebagai masalah yang berat bisa juga sebagai masalah yang ringan. Akan tetapi, jika yang dihadapi adalah masalah akhirat maka tak ada kata remeh dalam masalah tersebut karena akhirat adalah negeri abadi yang akan kita tentukan dengan kerja-kerja nyata di alam fana ini.


Jumat, 06 Januari 2012

Agar Jum'atan Lebih Berpahala




Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.00 WIB, tapi masjid di dekat kantor sudah mulai ramai didatangi para jamaah yang ingin melaksanakan ibadah shalat Jum'at. Karena belum jam istirahat, saya belum bisa bergegas ke masjid. Pukul 11.15 WIB aktivitas di tempat kerja dihentikan sementara, saya pun bergegas menuju masjid. Alhamdulillah, belum tergolong yang terakhir datang karena masih dapat barisan depan, walaupun tidak di barisan pertama. 

Sungguh beruntung orang yang bisa datang ke masjid lebih awal pada hari Jum'at karena ada sebuah hadis yang menyebutkan,Pada setiap hari Jumat para malaikat berdiri di depan pintu masjid menuliskan nama-nama orang secara berurutan. Ketika imam telah duduk (di atas mimbarnya) mereka menutup buku catatannya dan duduk mendengarkan khutbahnya(H.r. Bukhari). Selain itu, orang yang datang lebih awal akan mendapatkan pahala sebagaimana dalam sebuah hadis, "Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur" (H.r. Ahmad).

Rabu, 04 Januari 2012

Bahaya Laten Syiah


Di awal-awal tahun 2012, konflik di masyarakat muncul lagi, tepatnya di pulau Madura. Terjadi simpang siur mengenai apa penyebab terjadinya pembakaran pesantren Syiah yang ada di Madura. Ada yang mengatakan bahwa warga yang membakar pesantren Syiah datang membabi buta, seperti yang dilansir vivanews.com bahwa kerusuhan massa yang terjadi di Nangkernang, Sampang, Madura, Jawa Timur, Kamis 29 Desember 2011, berasal dari kelompok Sunni yang membakar Pesantren Misbahul Huda milik kelompok Syiah secara membabi buta. 

Tuduhan Tajul Muluk bahwa Sekte Syiah selama ini mendapatkan tekanan dan terror dari umat Muslim di Madura, ditampik oleh KH. Ali Karrar. Ulama kharismatik dari Madura ini mengatakan bahwa fakta itu dibalik oleh Tajul. “Yang benar mereka (Syiah) yang selalu mengusik ketenangan Sunni. Ibarat ladang, mereka selalu berusaha untuk menanam ladang milik orang lain,” terangnya kepada eramuslim.com. Bahkan, lebih lanjut KH. Ali Karrar mengatakan bahwa para penganut Syiah pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak paham dengan agama. Kyai juga mensinyalir adanya aliran dana yang digelontorkan Tajul kepada para pengikutnya.



Selasa, 03 Januari 2012

Tertib di Jalan Raya

Seperti biasa, setiap pagi pukul 07.30 WIB saya berangkat ke kantor. Matahari pagi yang tengah berbinar-binar menerpa setiap sosok yang melintas di jalanan. Akhir-akhir ini jalanan kota Yogyakarta semakin padat. Walau belum separah Jakarta, tapi sudah cukup membuat para pengguna jalan kelimpungan. Padahal, tujuh tahun silam (ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Yogyakarta) kepadatan kendaraan belum seperti ini. 

Berdasarkan data dari nasional.vivanews.com penjualan kendaraan bermotor khususnya roda dua di Yogyakarta mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Penjualan sepeda motor pada semester pertama tahun 2011 mencapai 4,07 juta unit meningkat 12 persen di bandingkan tahun 2010 dalam periode yang sama. Hingga semester pertama tahun 2011, sebanyak 92.914 unit sepeda motor didaftarkan di Samsat DIY atau rata-rata perbulannya mencapai 15.500 unit dengan total jumlah kendaraan sampai dengan semester pertama 2011 di DIY mencapai 1,6 juta unit. Sehingga, tidak heran jika setiap pagi selalu terjadi kemacetan di titik-titik tertentu. Polisi pun tak tinggal diam, mereka terlihat ramai di sana-sini guna membantu mengurai kemacetan atau sekadar meniup peluit agar para pengguna jalan berlaku tertib di jalan raya.



Senin, 02 Januari 2012

Khusuk dalam Shalat


Azan zhuhur sudah berkumandang, segera saya menuju masjid dekat kantor. Jamaah yang lain pun berduyun-duyun menuju masjid. Awalnya saya juga heran ternyata di zaman modern seperti ini masih ada juga masjid yang ramai dikunjungi jamaah. Ketika sang muadzin mengumandangkan iqamah, jamaah secara serentak berdiri memenuhi shaf yang ada.

Saat itu saya menempati shaf kedua, tapi ternyata di shaf pertama masih ada tempat untuk satu orang lagi. Karena sang imam menunggu shaf depan terpenuhi, saya pun maju agar shalat berjamaah dapat segera dilakukan. Sebenarnya ada yang sedikit mengganjal karena jamaah di samping saya adalah Bapak X, yang notabene sering saya hindari karena bapak tersebut sering melakukan gerakan-gerakan di luar shalat yang sangat mengganggu konsentrasi saya dalam shalat. Tapi mau bagaimana lagi, saya pun pasrah dan berharap semoga saya bisa khusuk dalam shalat. Menjelang takbir Bapak X itu masih seperti biasanya, banyak bergerak yang tidak perlu. Padahal, Bapak X ini sudah beberapa hari tidak terlihat, tapi hari ini beliau muncul lagi dan kebetulan satu shaf dengan saya (mungkin rindu dengan jamaah-jamaah di masjid ini karena ukhuwah antarjamaahnya kental sekali). Karena takut mengganggu dalam shalat, saya pun memejamkan mata ketika Bapak X tersebut bergerak-gerak (saya sudah agak hafal kapan saat-saat beliau bergerak, hal ini saya ketahui ketika Bapak X tersebut melakukan shalat sunnah, jadi memang gerakan yang dilakukan sudah seperti kebiasaan).



Jumat, 23 Desember 2011

Bahasa Daerah Makin Terdesak

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan budaya. Kurang lebih tujuh tahun silam saya menginjakkan kaki di kota ini, tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk menimba ilmu. Saya menyelesaikan jenjang SMA dan perguruan tinggi di kota ini. Praktis interaksi dengan para penduduknya pun tidak bisa dibilang singkat. Selama tinggal di Yogyakarta, saya sudah beberapa kali pindah tempat tinggal (indekos). Penduduknya memang ramah-ramah, bahkan bahasa Jawa yang biasa saya gunakan pun kalah halus dengan penduduk setempat. Berkat merantau ke Yogyakarta saya lebih mengenal bahasa Jawa yang baik dan benar. Terlebih ketika di bangku perkuliahan saya juga mengambil mata kuliah pilihan tentang bahasa Jawa dari Jurusan Sastra Nusantara di Fakultas Ilmu Budaya, UGM.

Tapi akhir-akhir ini, saya mulai berpikir sepertinya proses regenerasi dan pewarisan penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar tidak berjalan dengan lancar di Yogyakarta. Terbukti dengan tidak bisanya anak-anak kecil di Yogyakarta menggunakan bahasa Jawa (Jawa ngoko sekalipun). Fenomena ini banyak terjadi pada anak-anak yang orangtuanya berstatus ekonomi menengah ke atas. Mirisnya lagi, ketika saya tanya menggunakan bahasa Jawa mereka tidak bisa menjawab. Saya pikir mereka hanya pura-pura atau malu mengucapkan bahasa Jawa, tapi setelah saya gali lebih dalam dari warga sekitar memang dari pihak orangtua tidak mengajarkan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari.

Selasa, 20 Desember 2011

Belajar dari "Si Kecil"

Sudah lama saya tidak membuka file-file di komputer pribadi karena akhir-akhir ini kegiatan lebih banyak dihabiskan di kantor. Terakhir mengotak-atik komputer pribadi sewaktu masih berkutat dengan tugas-tugas kuliah dan urusan skripsi. Mencoba membuka-buka kenangan masa lalu. Kadang tersenyum-senyum sendiri ketika membaca salah satu tugas kulaih. Teringat bagaimana suasana kelas, dosen mengajar, serta teman-teman yang tengah asyik berdiskusi.

Tak sengaja kulihat sebuah file yang pernah saya download di youtube. File itu bertuliskan Harun Yahya. Terdorong rasa penasaran akhirnya  saya klik file tersebut. Ternyata isinya mengenai keajaiban penciptaan hewan. Nah, salah satu yang paling saya suka adalah mengenai keajaiban penciptaan semut dan lebah. Rasanya, ada baiknya juga melihat tayangannya di media player. Ya, sekadar untuk me-refresh kembali pikiran yang penat karena seharian bekerja. Walau mata sudah tidak terlalu bisa diajak kompromi, tapi tetap saya paksakan untuk menonton juga.

Senin, 19 Desember 2011

Mari Bersahabat dengan Alam

Akhir tahun 2011 tinggal menunggu beberapa hari lagi. Penutupan di akhir tahun yang diharapkan menenteramkan hati semua pihak terhenyak sejenak akibat peristiwa-peristiwa yang kadang tak diinginkan kedatangannya. Anomali-anomali alam pun kiat mencuat. Sebut saja aktifnya kembali Gunung Sindoro, yang terletak di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung, setelah tidur kurang lebih 101 tahun silam (menurut catatan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Gunung Sindoro terakhir kali meletus pada tahun 1910). Tidak hanya itu, kemarin, tepatnya hari minggu tanggal 18 Desember 2011 telah terjadi banjir bandang di Dusun Sidorejo, Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Tidak kurang dari 27 rumah penduduk hancur, 1 tewas, dan 2 lainnya kritis serta ratusan penduduk terpaksa mengungsi  di balai desa setempat. Hal ini terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Wonosobo.



Kamis, 15 Desember 2011

Muda-Muda Keladi

Sudah beberapa bulan lewat, saya rutin shalat jamaah (Zhuhur dan Ashar) di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Sepintas tak jauh beda dengan masjid pada umumnya. Hanya saja jamaahnya memang terkesan lebih banyak dibanding ketika saya shalat di masjid-masjid lain. Saya pernah bertanya pada salah satu rekan kerja saya, apakah jamaah di Jogokariyan memang banyak pada shlat-shalat tertentu atau di semua waktu shalat. Jawaban--bagi saya--yang mengejutkan pun muncul dari teman saya, katanya setiap waktu shalat masjid Jogokariyan memang selalu dipenuhi jamaah.